Figur (teladan) yang hilang….

Ketika penulis masih kuliah di tingkat pertama, semua modul pembelajaran ataupun matrikulasi baik itu berupa untuk mata kuliah ekonomi, matematika, fisika, kimia ternyata semua soal yang diberikan ditulis dengan judul teladan. Agak aneh, karena umumnya soal-soal yang ada diberi judul contoh.

Memang, modul pembelajaran yang diberikan sangat memadai. Semua persoalan diberikan secara sistematis, runut dan memberikan semua jawaban yang lebih bersifat pemahaman daripada sekedar hanya hapalan semata. Bahkan bila jawaban ujian mahasiswa sangat sistematis, meskipun nilainya salah, dapat diberi nilai lebih tinggi daripada jawaban yang tidak sistematis meskipun nilainya benar.

Ternyata ada makna mendalam dibalik penulisan judul teladan untuk setiap persoalan dalam modul mata kuliah tersebut. Disebut teladan, karena adanya keharusan/kewajiban bagi mahasiswa bahwa hal tersebut adalah layak dan patut diikuti karena mengandung nilai-nilai kebaikan dan kebenaran. Sangat berbeda jika hanya berupa contoh (example), yang boleh jadi ada yang patut diikuti dan ada yang tidak patut. Dengan memberikan nama teladan sebagai pengganti contoh soal, maka mahasiswa diharapkan mengikuti alur, tata laku maupun pola yang baik dalam menjawab setiap masalah, pertanyaan ataupun problema yang terjadi. Termasuk juga berperilaku ataupun ketika menghadapi suatu keadaan/situasi.

Terus terang, penulis kagum terhadap  penerapan kata teladan pada  setiap modul pembelajaran kuliah. Sang pencetus ide – Mantan Rektor di kampus -, sudah jauh hari menerapkan tata nilai, perilaku kepada seluruh mahasiswa mulai tingkat awal agar dapat menjadi teladan baik bagi diri sendiri, masyarakat, maupun lingkungan yang lebih besar. Dimulai dari materi pembelajaran yang baik, benar dan patut diikuti (teladan), diharapkan mahasiswa menjadi role model yang baik ketika saatnya  berinteraksi dengan lingkungan masyarakat.

Inilah problema besar sebenarnya negeri ini hadapi. Sulit sekali mencari teladan yang baik jika melihat maupun membaca berita yang beredar akhir-akhir ini. Hampir tidak ada figure, role model atau teladan baik dalam aktifitas keseharian masyarakat. Malah yang beredar adalah contoh yang tidak patut diikuti, menyebabkan terjadinya kerusakan moral dan perilaku bagi masyarakat.

Walhasil, apakah contoh (yang tidak patut) itu ada di lingkungan pemerintah,parlemen, jajaran hukum, kepolisian, pendidikan/akademik/mahasiswa,  entertainment ataupun lingkungan bisnis maka yang terjadi adalah efek menular dimana satu kasus menjadi panutan tidak baik. Belum lagi bila tidak disertai adanya penghukuman (law enforcement) terhadap aktifitas yang tidak patut tersebut.  Pihak yang mengungkapkan kejahatan malah ditahan, tetapi pejabat/tokoh/pemuka yang terlibat KKN atau bertindak asusila justru berkeliaran lepas bebas. Dan pada akhirnya, kerusakan moral dan akhlak seakan-akan sudah menggurita  di negeri ini. Mulai dari jajaran tertinggi pemerintahan sampai dengan kalangan rakyat terendah.

Keadaan yang paling tepat menggambarkan  kondisi  diatas adalah  ibarat hidup dalam suatu hutan belantara. Dihuni oleh pemimpin yang zalim, ilmuwan yang sok pintar, para pengusaha yang tidak memegang amanah, kalangan bawah yang arogan, serta pekerja professional yang tidak taat hukum.

Namun, sekedar hanya berdemonstrasi, meratapi keadaan, mengutuk dan menyalahkan pihak lain terhadap keadaan ini bukanlah solusi untuk keluar dari permasalahan ini. Yang mendesak dan perlu dilakukan sekarang adalah memperbaiki diri sendiri dulu sebelum pihak lain. Kita bisa mulai dari diri sendiri, apakah sudah benar perilaku kita menurut landasan akhlak, moral dan etika yang kita anut? Kemudian bertahap ajaklah terhadap orang terdekat kita mulai dari keluarga, rekan kerja agar sama-sama membangun akhlak,moral dan etika yang baik, entah itu dalam berusaha, berbisnis ataupun hubungan kerja. Tidak usah menunggu ajakan, atau seruan dari pihak lain, karena hal itu bisa dilakukan mulai dari sekarang.

Dengan tersebarnya nilai-nilai keteladanan dari diri sendiri, menyebar ke lingkungan terdekat sampai akhirnya ke lingkungan lebih luas, maka tidak mustahil negeri ini akan menjadi negeri yang makmur dan diberkahi Allah SWT, seperti halnya sebuah kebun yang indah, dihuni oleh pemimpin yang adil, dengan ilmuwan yang istiqomah dan berilmu luas, pengusaha-pengusaha yang cakap dan jujur, rakyat yang rendah hati dan sabar serta kaum professional yang menaati hukum. Semoga.

5 pemikiran pada “Figur (teladan) yang hilang….

    • Terimakasih mas sigit,
      Semoga Allah SWT selalu melapangkan jalan orang-orang yang berjuang di jalan Nya…:) amiin.

      salam,
      tshahindra

  1. Benar mas, keteladanan adalah apa yang selama ini kurang dimiliki oleh bangsa kita. Semoga apa yang anda alami di bangku perkuliahan juga terjadi di universitas0universitas lainnya sehingga mampu menyadarkan banyak generasi muda kini🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s