Profesionalisme, paradigma dan pengabdian

Sebulan lalu, tepatnya pertengahan desember 2009, penulis merasakan nyeri perut pada bagian kanan. Karena sakitnya tidak biasa, langsung saja konsultasi pada dokter internis, yang kemudian langsung dirujuk pada dokter spesialis bedah. Setelah menjalani rangkaian observasi, radiodiagnostik dan tes lab, oleh dokter dinyatakan kena gejala apendiksitis kronis, kemudian disarankan untuk menjalani operasi kecil pemotongan usus buntu (apendictomy).

Agak kaget juga mendengar saran dokter  tersebut. Saya masih berpikir-pikir untuk mengikutinya, walaupun memang ada resiko-resiko yang mesti dihadapi, yakni bila radang usus buntu makin parah, dan ada kemungkinan akut. Sayangnya, dokter tersebut tidak memberikan opsi atau alternative lain, terhadap penyembuhan radang usus buntu kronis.

Penulis pun mencari informasi lain dan second opinion dari beberapa dokter . Ada dokter yang menyarankan tetap untuk operasi, karena memang untuk kasus usus buntu, pengetahuan kedokteran modern baru mengenal surgical treatment sebagai pengobatannya. Bagi yang berkecimpung didunia kedokteran, tentu mengetahui bahwa pengobatan kedokteran modern mengenal 2 jenis treatment yakni surgical treatment (pengobatan melalui bedah, operasi dll) serta medical treatment (pengobatan melalui pemberian obat, injeksi dll) serta gabungan keduanya. Dokter lainnya, mengatakan bahwa untuk kasus kronis, sebenarnya tidak perlu langsung operasi, meskipun operasi akan lebih baik. Namun, sayangnya ada dokter juga yang mengatakan bahwa operasi adalah jalan terbaik, karena toh usus buntu tersebut tidak memiliki fungsi apa-apa. Sebuah pernyataan yang sepenuhnya penulis tidak setujui, karena keyakinan bahwa apa yang diciptakan Allah di dalam tubuh manusia tersebut tentu ada fungsi dan manfaatnya, hanya saja kedokteran modern ‘belum’ menemukan manfaat dari usus buntu.

Peristiwa ini membawa kepada penggalian informasi yang lebih dalam terutama terhadap praktek kedokteran modern sekarang. Ternyata menurut pakar kedokteran islam, Dr.Ahmad al Qadhi, dari Islamic Medical Center, Florida-Amerika,  ada perbedaan paradigma dalam pengobatan kedokteran modern dengan pengobatan kedokteran islam masa lalu yang kini dipraktekan di kliniknya. Kedokteran modern memiliki tujuan treat the disease, yakni melihat aspek penyakitnya apa, setelah diketahui baru diberikan metode pengobatannya yakni medical atau surgical. Sedangkan, kedokteran islam melihat dari keseluruhan aspek yang membuatnya terjadi penyakit, dan treatment yang diberikan adalah treat the patient, merawat pasien. Pasien yang datang di kliniknya, maka akan mendapat perawatan menyeluruh dengan melihat aspek : makanan yang dimakan, makanan tambahan yang diberikan, pembenahan aspek mental pasien, penguatan imunitas alami, pembinaan mental optimis, pelatihan kebugaran olahraga dan pengobatan alamiah. Dengan prinsip ini, pasien yang datang ke klinik mendapatkan prosentase kesembuhan 70% – 80%, untuk penyakit yang oleh kedokteran dianggap sebagai penyakit seumur hidup, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, jantung, dan reumatik. Bahkan untuk penyakit kanker yang sudah akut, tingkat kesembuhan mencapai 25%, yang merupakan prestasi spektakuler bila dibandingkan  prosentase kesembuhan pengobatan medis modern.

Mendapat informasi dan pengetahuan ini, akhirnya tersadar bahwa ada semacam pergeseran paradigma dalam pengobatan modern/medis sekarang. Bukan berarti pengobatan modern itu buruk, tetapi sangatlah jauh aspek pelayanan yang diberikan dengan metode yang pernah dikembangkan pada kedokteran islam, dan sekarang dipraktekan pada beberapa klinik modern seperti di atas. Jelas sekali, metode diatas sangat menitik beratkan kedokteran yang bersifat menyeluruh atau holistic, dimana timbulnya penyakit tidak hanya dilihat dari sisi penyakit saja, tetapi juga melihat aspek lainnya seperti faktor makanan/minuman, kondisi psikologis, lingkungan pasien berada, faktor ekonomi dan juga sosio-kultural.  Serupa dengan tujuan web blog ini dibuat, yakni dimana aspek pengembangan sumber daya manusia harus melihat secara menyeluruh dan seutuhnya. Paradigma ini yang seharusnya menjadi aspek yang menjadi perhatian menyeluruh kedokteran modern.

Seandainya jika dokter memahami paradigma tersebut, tentu dokter akan memberikan pendekatan berbeda kepada pasien.  Bayangkan, jika dokter memberi ilustrasi tentang penyakit seperti dibawah : “Dari hasil tes lab, darah dan radiodiagnostik ini, saudara menderita usus buntu kronik atau dalam istilah medis kami dikenal sebagai apendicitys chronic. Penyakit ini, disebabkan oleh radang pada usus buntu yang bisa dikarenakan sumbatan dari usus buntu karena peradangan oleh bakteri atau infeksi. Ada dua tindakan untuk pengobatannya, yakni secara operasi atau pengobatan/perawatan. Kami melihat,  pengobatan ini dapat dilakukan secara rawat jalan karena ini baru pertama kali sdr merasakan nyeri. Dalam kasus kronis, radang usus buntu ini belum memerlukan tindakan operasi sesegera dan bisa dirawat melalui pengobatan medis seperti pemberian obat yang dapat memperkuat imunitas tubuh sehingga peradangan berkurang. Lain halnya jika sdr menderita kasus radang usus buntu akut yang memang sangat riskan jika tidak dioperasi sesegera dalam 2×24 jam. Yang terpenting adalah saudara menjaga pola makan selama ini yang kurang sehat, yakni makanan hewani yang porsinya terlalu tinggi, makanan pedas dan juga makanan berlemak tinggi. Perbanyaklah konsumsi buah-buahan atau sayuran dan juga makanan nabati. Selain itu, saudara perlu menghindari faktor stress karena dapat memperlemah imunitas tubuh. Lakukan olahraga ringan untuk memperkuat kebugaran fisik dan daya tahan terhadap stress. Jika petunjuk diatas dilakukan benar, insya Allah peradangan tidak terjadi lagi. Memang sedikit berat, namun tentu sangat kecil resikonya dibandingkan operasi. Kami percaya, bahwa pola hidup saudara  selama ini memang cenderung menyebabkan terjadinya usus buntu, namun karena daya tahan tubuh yang kuat, maka yang terjadi hanya bersifat kronis. Jika saudara memiliki dana dan dilindungi oleh asuransi, boleh saja mengikuti prosedur operasi untuk mengangkat usus buntu yang meradang. Meskipun kami tahu bahwa dalam kedokteran modern, fungsi usus buntu belum jelas, namun kami percaya bahwa tentu itu ada manfaat dan gunanya bagi tubuh manusia”

Nah, apa jadinya jika dokter di Indonesia memberikan saran seperti diatas? Tentunya pasien sangat senang dan percaya bahwa ada alternatif lain yang diberikan dokter kepada pasiennya. Terlihat bahwa dokter juga memperhatikan aspek ekonomi dan finansial pasiennya, jika mampu dipersilakan ikut surgical treatment namun masih melihat bahwa penyakit tersebut sebenarnya dapat sembuh melalui perbaikan pola hidup dari makanan, olahraga dan perbaikan aspek psikis/mental, yang tentunya biayanya jauh lebih murah daripada operasi semata.

Tampaknya memang telah terjadi pergeseran atau perubahan aspek hubungan antara dokter dan pasien.  Hubungan yang semulanya harus berdasarkan atas saling pengertian, saling menghormati, saling peduli dan saling mempercayai diyakini telah berubah menjadi hubungan transaksional belaka, tidak beda dengan barang supermarket, ada harga maka akan ada pelayanan.  Pasien membayar dokter untuk jasa, dan dokter memberi jasa medis untuk mendapat uang.  Praktek seperti ini lebih mengutamakan uang daripada kepedulian atau tujuan sebenarnya pelayanan kesehatan, yakni meningkatkan taraf kesehatan masyarakat.  Sekarang saja, tarif rawat inap rumah sakit swasta untuk kelas I ke atas, sudah lebih tinggi daripada tarif hotel bintang III.

Padahal, salah satu tokoh kedokteran nasional kita, Dr. Cipto Mangunkusumo, yang namanya diabadikan sebagai nama RS Umum Pusat Nasional memiliki nilai dan pengabdian yang sangat tinggi dalam profesinya sebagai dokter.  Beliau melepas atribut ningratnya (Pada jaman kolonial belanda, hanya orang pintar dan kaya/ningrat yang bisa meraih profesi dokter), untuk menolong masyarakat miskin yang terkena wabah pes di kota malang, pada tahun 1910. Hanya dia seorang yang terjun ke lapangan, di saat dokter-dokter eropa dan belanda ketakutan tertular penyakit pes.  Beliau terpaksa mendaftarkan diri menjadi dokter pemerintah ‘hindia belanda’ agar dapat terjun langsung ke pelosok-pelosok desa, untuk menolong warga miskin yang terkena wabah, meskipun tanpa alat masker dan perlindungan diri yang memadai.  Bukan hanya itu, ketika Dr. Cipto berpraktek di solo, kerap kali memberikan pengobatan gratis bagi pasiennya. Bahkan untuk yang benar-benar tidak mampu, beliau malah memberikan uang untuk membeli obat, sehingga kadang mengganggu anggaran rumah tangga. Namun bagi beliau, bukanlah sebagai persoalan karena memang panggilan jiwa untuk menolong lebih besar daripada mengharapkan pamrih.

Belum lagi hubungan dan kedekatan Dr. Cipto dengan masyarakat.  Ketika diasingkan ke Pulau banda karena perlawanannya kepada kolonialisme, beliau membawa seorang anak perempuan yang kedua orangtuanya meninggal akibat wabah pes di pulau jawa. Peristiwa ini sangat menggambarkan betapa akrab dan eratnya hubungan antara dokter dengan masyarakat.  Sayangnya sangat sulit melihat profil dokter seperti Dr.Cipto di jaman sekarang ini.

Agaknya, memang telah terjadi pergeseran paradigma dalam praktik kedokteran modern sekarang. Juga pergeseran nilai-nilai yang dulunya/awalnya sangat luhur sekali yakni menolong masyarakat sekarang lebih berfokus pada menjual jasa.  Kita perlu mencontoh praktek kedokteran islam dalam hal penanganan pasien seperti yang antara lain dipraktekan Dr. Ahmad Qadi, dan juga meneladani nilai-nilai perilaku pengobatan masyarakan dengan cara Dr. Cipto Mangunkusumo ketika menghadapi wabah pes di pulau jawa.

Karena itu perlu ada perbaikan dalam hal system dan pelayanan kesehatan dan juga paradigm pengobatan modern.  Pertama adalah dalam system dan pelayanan, bisa mengambil system kedokteran islam, dimana para dokter digaji oleh pemerintah semuanya, dan perbedaan gaji hanya berdasarkan pengalaman dan kompetensi dokter. Jadi tidak ada dokter atau Rumah Sakit yang mengambil keuntungan finansial dari pasiennya, dengan memberi pelayanan istimewa dan khusus.  Ada pasien atau tidak ada pasien,  dokter tetap mendapatkan penghasilan karena sudah ditanggung oleh pemerintah. Dengan demikian, fokus terhadap taraf peningkatan kesehatan masyarakat dapat dilakukan.

Kedua adalah perbaikan dalam paradigm kedokteran sekarang dari yang sifatnya treatment disease menjadi treatment the patient. Sehingga, pengobatan menjadi lebih efektif, murah dan tidak memerlukan biaya tinggi karena treatment yang sebenarnya tidak perlu, seperti operasi bedah, dan modern treatment lainnya. Jika penyakit pasien dapat disembuhkan dengan istirahat saja dan perbaikan pola hidup, mengapa harus dirawat inap rumah sakit?. Sudah bukan rahasia lagi, bahwa ada kepentingan bisnis dan kolusi antara farmasi, produsen obat dengan dokter agar sebanyak mungkin menggunakan obat yang mereka produksi.

Tentunya dengan perbaikan sistem, tata nilai, praktek, kedokteran dan paradigma yang ada, maka tidak perlu adanya kasus seperti Prita dengan Omni Hospital, kasus malpraktik dan tujuan dari pelayanan kesehatan masyarakat yakni meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dapat tercapai seutuhnya. Dan tentunya, yang mendapat manfaat tidak hanya bagi masyarakat, tetapi keseluruhan pihak baik pasien, pemerintah maupun rakyat pada umumnya.

Sumber : Pdpersi, Islamic medicine books

3 pemikiran pada “Profesionalisme, paradigma dan pengabdian

    • Betul,

      Perlu ada perbaikan dalam sistem kedokteran kita, sistem, tata nilai, praktek, paradigma, manajemen kesehatan maupun indikator keberhasilan kesehatan masyarakat.

      Bukan banyaknya rumah sakit, jumlah pabrik farmasi, jumlah dokter, atau ketersediaan obat yang menjadi indikator, tetapi banyaknya jumlah orang yang berperilaku sehat seharusnya menjadi indikator utama program peningkatan kesehatan masyarakat oleh pemerintah.

      salam,
      tshahindra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s