Teladan baik model pelatihan level V dan VI

Dari sekian jenis training yang pernah penulis ikuti, mulai dari pelatihan soft skill (perilaku, budaya) maupun hard skill (ketrampilan, pengetahuan), belum ada satupun model pelatihan yang mampu mencapai evaluasi tingkat 5 (ROI) model Kirkpatrick.  Bahkan, sebagai mana jasa-jasa penyelenggara pelatihan (training solution provider), hampir semuanya menggunakan model kuesioner sebagai bentuk evaluasi pelatihan yang diberikan kepada peserta,  selanjutnya menilai tingkat kepuasan terhadap trainer, materi termasuk fasilitasnya. Jadilah yang dinamakan indeks kepuasan peserta pelatihan atau biasa disebut sebagai Participation Satisfaction Index. Sering kali ini disebut sebagai ukuran / indikator keberhasilan penyelenggaraan training, padahal dalam model evaluasi pelatihan, indikator ini hanya menduduki strata terendah (tingkat 1: kepuasan) model evaluasi training.

Namun berbeda dengan model pelatihan yang penulis ikuti beberapa waktu lalu. Inilah model pelatihan yang menawarkan sesuatu yang benar-benar lain dan sejauh ini penulis belum menemukan penyelenggara sejenis.  Digagas oleh bapak Muhaimin Iqbal, pelatihan yang diberikan dinamakan pesantren wirausaha. Ya, dari namanya mungkin mudah ditebak, tentunya terkait dengan kewirausahaan.

Biasanya, model pelatihan wirausaha akan menitikberatkan pada pengenalan jenis usaha yang prospektif , teknik dan manajemen mengelola usaha, perhitungan BEP, investasi, pengembalian modal, selanjutnya belajar dan membuat produk atau jasa yang ditawarkan. Sudah pasti, ada harganya karena memang itu tujuan dari penyelenggara pelatihan. Model pelatihan ini umumnya menggunakan jenis usaha yang sedang jadi mode atau trend seperti pembuatan kue, makanan, budidaya tanaman eksotis/ikan/ternak dll. Bisa dilihat, beberapa waktu lalu seperti budidaya ikan louhan,  pelatihan tanaman gelombang cinta/ aglonema/ anthurium, namun sekarang seperti halnya mode, setelah harga kembali turun dan normal, tak jadi lagi trend.

Sedangkan pelatihan pesantren wirausaha yang digagas pak Iqbal, benar-benar sama sekali berbeda. Beliau memberikan pelatihan tanpa mengenakan biaya sama sekali, alias gratis. Konsep yang ditawarkan juga bukan seperti pelatihan umum lainnya. Yang terpenting dalam pelatihan ini adalah seperti belajar berenang. Banyak teori, ilmu, strategi tentang berenang, namun apakah dengan membaca buku ilmu renang saja orang akan bisa berenang?. Tentu tidak. Yang terpenting adalah bisa mengambang dulu atau tidak tenggelam dengan praktek di kolam renang. Inilah pelatihan dimana penyelenggara menjati pelatih (coach) yang tentu sudah mahir berenang sedangkan peserta adalah orang yang belum bisa atau belum mahir berenang.  Karena itu, yang diutamakan dalam pelatihan ini adalah peserta bisa ‘mengambang’ dalam ‘kolam renang’ usaha, dan tidak ‘tenggelam’ dulu, sambil terus melatih diri dengan ilmu, teknik yang tepat agar mahir dan selanjutnya mampu ‘berenang’ dengan piawai.

Pelatihan ini juga mengedepankan pentingnya kekuatan bersama (jamaah). Suatu sinergi, dengan jumlah yang tepat, akan menghasilkan kekuatan yang berlipat ganda sehingga peluang suatu keberhasilan semakin besar. Bisa diambil contoh dari kasus Grameen Bank yang dibangun olehMuhamad Yunus. Di grameen, peluang kegagalan suatu pinjaman atau kredit usaha hanya 1 dari 44 debitur,  karena peminjaman yang diberikan dilakukan secara kelompok-kelompok kecil yang bertindak sebagai penjamin anggota.

Lebih lanjut, pelatihan yang diberikan sudah mengarah atau melebihi level V (Retun on Investment) dan VI (Intangible Benefit). Umumnya bisnis yang ada sekarang hanya bersifat  pada model pertama, Maximizing Profit – mengejar untung/profitabilitas semata. Karena itu ukuran yang dipakai sering berupa angka-angka, Net Profit ratio, Net Margin dll. Sedangkan model bisnis ke dua berikutnya disebut sebagai Social Business, dimana tidak hanya keuntungan yang diraih, tetapi juga adanya pengakuan, reputasi, dukungan masyarakat/pemerintah, dukungan politik massa, atau sesuatu yang bersifat intangible.

Sedangkan bisnis model yang diajarkan pada pesantren wirausaha adalah bisnis model ke tiga, yakni Bisnis yang mengejar Ridha Ilahi, dimana ciri-cirinya adalah tidak mengharapkan apapun dari manusia atau lingkungannya, namun hanya mengejar Ridla Ilahi, Ridha Allah sebagai pencipta alam semesta yang memberikan rezki, nikmat kepada makhlukNya.  Dengan penekanan pada bisnis model ini, peserta diharapkan tidak hanya rela mencapai mengejar suatu ilmu atau pengalaman bisnis, serta dengan sukarela menyebarkan pada anggota lain, namun juga peserta pelatihan dapat berbagi (sharing) dan melengkapi kekurangan yang ada.

Dengan paradigma dan penerapan nilai-nilai model bisnis ke tiga, maka keikhlasan serta motivasi peserta untuk berbagi akan semakin nyata. Sifat meminta balasan, atau pamrih dari semua aktifitas akan hilang, karena dorongan untuk melakukan pekerjaan sudah semata-mata karena ridha Ilahi. Bukan tidak mungkin, pertolongan, kemudahan maupun bimbingan dari Allah, sebagai sang pemberi Rezeki, semakin mudah karena adanya keyakinan yang besar muncul dari hambaNya yang ikhlas. Inilah sasaran yang ingin diraih pada pelatihan pesantren wirausaha, yang sudah melebihi daripada sekedar mendapatkan Intangible benefit yang dianggap sebagai indikator evaluasi pelatihan paling tinggi pada sistem pengajaran dan pelatihan. Bahkan karakter ini sudah menjadi ciri bagi organisasi yang menerapkan manajemen berbasis spiritual seperti yang tertuang dalam webblog ini.

Tentu saja tidak lengkap, membicarakan model pelatihan pesantren wirausaha dengan melihat dampak atau hasil evaluasinya. Ternyata dari angkatan I dan II yang telah mengikuti pelatihan pesantren wirausaha tersebut, dalam tempo 2-3 minggu, sudah memiliki ide dan implementasi ide bisnis tersebut ke dalam usaha nyata. Ide atau produk pertama adalah mengenai makanan beku dan kedua adalah susu kambing segar. Bahkan saat ini sudah dalam penyiapan lahan dan kandang untuk kambing jenis Ettawa yang bagus untuk produksi susu kambing. Pemasaran juga sudah dilakukan dengan bermitra pada produsen yang sudah berproduksi.

Jazaa’u ihsan Illal Ihsan –tak ada kebaikan kecuali dibalas kebaikan, demikianlah prinsip yang dipegang dalam penyelenggaraan pelatihan pesantren wirausaha. Semoga model pelatihan ini bisa menjadi solusi bagi negeri ini, dimana masalah moral, etika dan nilai-nilai kebenaran belum menjadi landasan bisnis bagi sebagian pelaku usaha.

2 pemikiran pada “Teladan baik model pelatihan level V dan VI

  1. bagus sekali pelatihan ini.orientasi ridha ilahi tidaklah mudah menjalankannya.kita sering terbawa emosi terhadap pencapaian hasil yang cepat,tetapi apabila kita mampu mempertahakan niat kita pagi dan petang mengejar sasaran dan mampu melihat indikasi perobahan maju dari menit ke menit.pasti terbangun hasil dari niat kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s