Jalan spiritualitas sebagai landasan manajemen dan bisnis

ssc2005-26b_smallKetika memulai mendirikan perusahaan tahun 1959, Kazuo Inamori hanya bermodalkan sedikit pengetahuan teknologi, tanpa uang, berlokasi di pinggir kota dan ditemani hanya 28 staff. Namun sekarang perusahaannya telah menjelma menjadi perusahaan global penyedia layanan telekomunikasi, keramik industri, panel surya listrik, komponen elektronik, semikonduktor dan penyedia peralatan medis maupun implan dengan pendapatan 12 milyar USD pertahun. Itulah Kyocera.

Menariknya, perusahaan ini memiliki moto / semboyan : Respect the divine and love People, Menghormati ilahi dan mencintai masyarakat. Di situs web Kyocera, penjelasan moto tersebut digambarkan sebagai: Preserve the spirit to work fairly and honorably, respecting people, our work, our company and global community (Mempertahankan semangat untuk bekerja secara adil dan terhormat, menghormati orang-orang, pekerjaan kami, perusahaan kami dan juga komunitas global). Dengan moto tersebut, pendiri Kyocera telah melangkah dan menjadikan landasan spiritualitas dalam bisnis manajemen perusahaannya.

Saat ini, mulai muncul keyakinan, bahwa kesadaran spiritual diperlukan sebagai kekuatan untuk mengatasi efek sistem kapitalisme bisnis pada pemikiran bisnis dan manajemen yang merusak lingkungan maupun kehidupan manusia. Dengan kesadaran spiritualitas, maka sukses material (profit, uang, aset) maupun sukses sosial (reputasi, brand, citra) tanpa dibarengi kesuksesan spiritual dapat menimbulkan ketimpangan tidak hanya bagi perusahaan itu sendiri tapi juga bagi masyarakat, lingkungan, maupun bangsa. Jika motif-motif spiritual ini berhasil ditanamkan ke dalam manajemen, maka manajemen bisnis yang semula bersifat kapitalis akan menunjukkan wajahnya yang lebih spiritual.

Teladan menarik selain Kyocera juga diberikan oleh perusahaan lain di Indonesia, yakni bank Muamalat. Melalui konsep Celestial Management yang digagas oleh A.Riawan Amin, muamalat dijadikan sebagai organisasi dengan tiga dimensi tempat yakni :pertama sebagai Tempat beribadah (worship) merupakan wujud keyakinan kesadaran spiritualitas akan kebesaran dan keagungan Sang Pencipta yang maha Kuasa, kedua sebagai Tempat berkumpul dan berbagi kesejahteraan (wealth) merupakan wujud sukses sosial dan emosional, serta terakhir sebagai Tempat bertempur (warfare) yang merupakan wujud keunggulan prestasi sukses bisnis secara material. Ketiga posisi itu mendapat tempat yang seimbang agar tercapai kesuksesan organisasi secara spiritual, sosial dan bisnis.

Di bank Muamalat inilah perilaku spiritualitas ditampilkan. Ketika muamalat dilanda krisis moneter tahun 1998, semua jajaran manajemen dan staf shalat tahajud bersama setiap malam sabtu. Mereka menyadari bahwa perusahaan mendapat cobaan yang berat, namun mereka meyakini bahwa sang Pencipta adalah tempat sebaik-baiknya meminta pertolongan. Di setiap akhir shalat mereka berdoa: “Allahuma barik bank muamalat…”. Memohon pada Allah agar bank Muamalat selamat dan dapat terus berkhidmat pada umat. Hasilnya, bank Muamalat termasuk bank yang selamat dari krisis, di saat bank-bank lain bertumbangan. Menjadi satu-satunya bank yang tidak mendapat Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) atau rekap dari Pemerintah di waktu itu. Hantaman krisis ketika itu memang sempat membuat bank muamalat limbung, dan mengalami rugi Rp105 miliar pada tahun 1998. Padahal total modal disetor hanya Rp138.4 miliar. Dengan perjuangan dan ikhtiar di semua lini, kerugian bisa ditekan bahkan dapat menghasilkan laba operasional hingga Rp50,3 miliar pada tahun 2001. Di tahun 2002, total equitas sudah melebihi modal disetor, yang menjadi sebesar Rp174,3 miliar. Sementara bank-bank konvesional banyak yang berguguran atau hanya bisa bertahan bila diberi dana rekap dari pemerintah. Keyakinan untuk menyelamatkan bank Muamalat sebagai organisme dakwah yang bergerak di bidang ekonomi membuat segenap staf bank Muamalat bahu membahu bekerja. Sekarang bank Muamalat menjadi salah satu bank umum syariah terbesar di Indonesia.

Organisasi-organisasi tersebut diatas merupakan teladan baik yang telah menerapkan prinsip-prinsip spiritualitas dalam manajemen bisnis. Tempat dan ruang bisnis yang dulunya hanya diisi oleh keuntungan semata (profit center), kemudian beralih sebagai ruang untuk tumbuh berkembang bersama (social-sharing center) dengan keadilan dan kesejahteraan bagi pekerja, masyarakat, bangsa dan komunitas global, kemudian melangkah bertransformasi sebagai ruang yang menempatkan Allah, sang Maha Pencipta sebagai stakeholder utama (spirituality center), dimana organisasi hanya diberi amanat untuk menjalankan roda bisnis berdasarkan keyakinan, moralitas dan kepercayaan dimana nilai-nilai moral, kebaikan, kebenaran dan keadilan terletak di puncak nilai organisasi. Dalam hal ini, spirituality principle menjadi landasan tidak hanya bagi pemimpin tertinggi organisasi namun juga seluruh personal yang ada di dalam organisasi tersebut.

Dalam menjalankan bisnis, organisasi yang menerapkan spirituality principle memiliki landasan dan prinsip yang kuat. Ukuran maupun indikator keberhasilan juga tidak lagi menetapkan pada nilai yang bersifat tangible dan intangible, tetapi sudah melihat indikator berbasis prinsip keyakinan, moral dan kepercayaan yang bisa dirasakan ketika berad a dilingkungan atau saat berinteraksi dengan organisasi tersebut. Mereka percaya, nilai kebaikan, kebenaran, keadilan serta moralitas yang ditunjukkan dalam perilaku bisnis, akan kembali juga kepada mereka dalam bentuk yang lebih besar. Dua contoh perusahaan diatas sudah menikmati apa yang telah mereka tanam dan tabur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s