Antara UMR pekerja, kambing dan dinar

dinar-kambing-umrBenarkah pekerja kita selalu minta kenaikan upah (UMR) karena untuk peningkatan kesejahteraan?. Setiap kali pengumuman UMR/UMSK oleh pemerintah daerah, maka boleh dibilang UMR/UMSK selalu naik dari tahun ke tahun. Belum pernah terjadi penurunan UMR, meskipun tahun ini boleh dikatakan sebagai tahun yang berat dalam kondisi ekonomi nasional yang terpengaruh krisis global di negara maju. Tahun 2009, beberapa propinsi sudah menetapkan UMR dan UMSK. Rata-rata kenaikan UMR biasanya sekitar 10 % lebih.

Namun dalam beberapa hal, seringkali para pekerja yang diwakili serikat pekerja, LSM dan ormas lainnya menuntut kenaikan lebih tinggi daripada yang diusulkan pemerintah. Pemerintah sendiri berargumen bahwa kenaikan UMR sudah melebihi atau minimal sama dengan angka inflasi dari Biro Pusat Statistik. Namun, kenyataannya kebutuhan hidup dan harga-harga tetap merangkak naik, dan tidak cukup terkejar oleh kenaikan upah selama ini.

Jika diatas kertas, memang nilai UMR terus meningkat dari waktu ke waktu. Sebagai perbandingan, nilai UMR DKI jakarta tahun 2000 sebesar Rp 344.257 dan UMR DKI tahun 2009 adalah sebesar Rp. 1.096.865 atau naik 3 x lipat lebih. Kelihatannya besar kenaikannya, tapi apakah memang kesejahteraan pekerja meningkat seiring kenaikan UMR? Atau bahkan mengalami penurunan?. Ketika penulis mencoba sendiri menghitung kelayakan hidup pekerja, angka yang muncul adalah sekitar 1.5 juta lebih. Berarti ada yang ‘tidak beres’ dengan nilai UMR sekarang dalam uang rupiah.

Penulis lalu mencoba mengumpulkan data antara nilai UMR dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2009. Kemudian membandingkan dengan nilai Dinar Emas dan harga kambing (harga untuk ukuran sedang 30 kg). Mengapa dipilih Dinar Emas dan harga kambing? Karena emas(dinar) dan kambing adalah benda yang memiliki nilai sesungguhnya riil dan tetap. Emas, mempunyai nilai abadi tidak akan rusak oleh karat atau mengalami penyusutan. Kambing dipilih, – bukannya beras, jagung atau bahan pangan lain- karena kambing belum bisa di’rekayasa’ sedemikian rupa sehingga bisa tumbuh besar siap potong dalam waktu 6 bulan misalnya, karena kambing untuk tumbuh besar memerlukan makan, minum dan perawatan yang kuantitasnya  tetap sama sejak jaman Majapahit sampai sekarang. Sedangkan beras, jagung atau kacang-kacangan, bisa ditingkatkan produktivitas atau masa panennya melalui teknologi rekayasa pertanian dan intensifikasi sehingga tidak bisa dibanding sewaktu jaman dulu dengan sekarang. Harga dinar emas diambil dari situs GeraiDinar.

Hasil analisa kemudian dimasukkan ke dalam bentuk tabel. Ternyata, pada tahun 2000 ketika UMR masih senilai Rp 344.257, harga dinar emas baru mencapai Rp 288.251 dan harga kambing ukuran sedang sekitar Rp. 250.000. Berarti gaji yang diterima pekerja masih cukup untuk membeli satu ekor kambing atau satu keping Dinar emas 22K, dan masih menyisakan sejumlah uang. Namun kecenderungan ke depan nilai UMR mulai perlahan-lahan dikalahkan dengan nilai kambing dan dinar emas, dan pada tahun 2006 nilainya sudah sama antara UMR,kambing dan Dinar. Tahun berikutnya nilai kambing dan dinar sudah meninggalkan nilai UMR dan perbedaannya mencapai 30% di tahun 2009 ini. UMR pekerja sudah mengalami penurunan nilai dibandingkan emas dinar maupun kambing. Tidak hanya bagi pekerja, untuk entry level (S1) sendiripun mengalami penurunan. Tahun 2000, rata-rata TakeHomePay (THP) S1 sekitar Rp. 1 juta , dan itu senilai dengan 3.5 kali dinar emas saat itu. Namun di tahun 2009, dengan rata-rata THP sekitar Rp. 3 juta, itu hanya senilai 2.3 keping dinar.

Apa artinya ini bagi kita semua? Ternyata pekerja kita semakin menurun kesejahteraan dari tahun ke tahun dan sifatnya sudah seperti kepastian. Ada yang ‘merampok’ kesejahteraan pekerja setiap tahun, meskipun diatas kertas uang UMR dinaikkan. Mungkin ada yang berargumentasi,  nilainya tidak dibawah angka inflasi tahunan. Pada dasarnya inilah akibat dari semua sistem mata uang kertas (paper money) yang tidak memberikan kestabilan. Inflasi timbul karena mata uang kertas yang diterbitkan tidak di’backup’ oleh sesuatu yang riil. Jika ada ahli ekonomi yang mengatakan inflasi timbul karena banyaknya ‘uang kertas’ yang beredar daripada yang diperlukan, penulis tidak percaya. Jika semua uang kertas dibackup dengan emas, tidak akan terjadi inflasi. Namun pencipta uang kertas – bank sentral dan bank – termasuk yang berperan dalam penggunaan uang kertas untuk memonopoli perdagangan dan merusak sistem ekonomi riil.

Ini bukanlah kesalahan dari para pengusaha atau karyawan. Para pekerja adalah korban dari sistem mata uang kertas ini. Termasuk juga pengusaha dan pedagang-pedagang yang jujur .Ini merupakan kesalahan dari sistem ekonomi moneter yang berbasis uang kertas (paper/fiat money) yang semakin hari semakin tidak ada harganya. Nilai emas setiap tahun menunjukkan apresiasi terhadap uang kertas rupiah sekitar 25%, sedangkan nilai dinar emas terbukti memiliki nilai tukar yang sama dengan seekor kambing seperti tabel diatas. Begitu juga 1000 tahun yang lalu, harga seekor kambing sekitar satu keping dinar emas. Tidak ada inflasi dengan penggunaan mata uang emas. Kenaikan UMR yang rata rata sekitar 12% setahun tidak akan bisa mengimbangi kenaikan harga kambing yang sebesar 20-25% setahun.

Sayangnya pemerintah kita belum ( atau tidak mau) mengadopsi sistem moneter berbasis emas. Ini juga dikarenakan sudah terlalu banyak beredar uang kertas yang diterbitkan padahal pembuatan uang kertas akan menciptakan gelembung finansial dimana pada titik tertentu uang kertas itu benar-benar akan tidak bernilai lagi dan menjadi kertas dalam arti senyata-nyatanya, artinya sama saja dengan kertas koran.Kapan waktu itu terjadi ?, menurut perkiraan penulis tidak lama, entah beberapa tahun ke depan lagi, wallahu alam.

4 pemikiran pada “Antara UMR pekerja, kambing dan dinar

  1. Ping balik: Kesejahteraan Penduduk/Pekerja, tanggung jawab siapa? « Ilmu SDM

  2. Terima kasih atas analisis cerdas tentang penggunaan uang kertas terhadap dinar. Hal ini mengingatkan kembali betapa perlunya penggunaan mata uang dinar dalam perniagaan. Tentu, ini akan membuka pemikiran baru mengenai nilai tukar berbasis emas khususnya di Indonesia . Trims

  3. tulisan yang menginspirasi bos…menyadarkan kita akan hakikat alat tukar yang sesungguhnya dan terbukti digunakan oleh Tauladan akhir zaman kita Rasulullah SAW.semoga menggerakkan.
    bapak punya data nilai tukar dinar dirham dari tahun 2000-2011?

    • Betul,
      Sebenarnya alat tukar dinar sendiri berasal dari Romawi yaitu Dinarium. Tetapi dikembangkan lagi pada jaman rasulullah dan kekhalifahan dengan bentuk dan disain dinar tersendiri. Dan memang, penggunaan dinar sebagai alat tukar lebih stabil dibandingkan uang kertas (fiat money) yang rentan terjadi inflasi, krisis dll.
      Saya punya data nilai tukar dinar dari tahun 2000, kirimkan saja request ke email saya. Nanti saya kirimkan.

      salam,
      Tengku Shahindra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s