Jalan toll dan etika berkendara

small-car-crashDalam perjalanan menuju jakarta dari bandung, penulis melewati jalan tol cipularang, sehabis mengunjungi saudara pada akhir desember 2008 lalu. Di tengah tol cipularang yang konon merupakan kependekan dari cikampek-purwakarta-padalarang,  ada papan petunjuk yang ditempel pihak pengelola jalan tol, berisi informasi kecelakaan. Sayangnya,  tidak sempat menghapal semua data, namun saat itu (bulan desember 2008  ) yang teringat adalah angka kecelakaan meninggal sebanyak 73 orang. Banyak juga, demikian pikiran yang terlintas.

Apa artinya angka itu bagi kita? berarti sepanjang tahun 2008 s/d bulan desember 2008 yang belum habis itu, sudah ada 73 orang meninggal dalam kecelakaan di tol. Dalam sebulan sekitar 7 orang, atau sekitar 3 orang meninggal setiap 2 minggu yang melewati jalan tol. Angka tersebut kemungkinan akan bertambah, karena masih ada sisa sekitar beberapa hari menjelang akhir tahun 2008. Namun cukuplah disebut bahwa angka kecelakaan fatal di jalan toll cipularang adalah tinggi.

Di benak penulis, seharusnya angka kecelakaan fatal yang menyebabkan kematian bisa jauh lebih rendah. Ternyata tidak terlalu perlu berpikir lama untuk mengetahui bahwa angka tersebut memang bisa jadi ‘layak’ diterima jika melihat kenyataan pengendara tol di jalan. Mungkin ini hanya asumsi  semata, dan perlu pembuktian secara ilmiah jika mau dikaji lebih mendalam. Hanya saja, kadang terlalu banyak pengujian secara ilmiah bisa jadi malah membuat lambat aksi yang seharusnya bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan fatal di jalan.

Di tol cipularang, angka penunjuk batas kecepatan jalan tol yang diijinkan maksimal adalah 80 km/jam. Angka tersebut, tentu tidak muncul dari langit tetapi sudah disesuaikan dengan kondisi dan keadaan jalan tol di cipularang. Di jalan tol jagorawi,batas angkanya adalah 100 km/jam.

Ketika mengendarai mobil di tol,  penulis menyesuaikan dengan angka batas kecepatan diijinkan sesuai petunjuk rambu. Namun aneh, rasanya kecepatan itu tampak sangat ‘mengganggu’ pengendara lain, sehingga walaupun berada di jalur cepat seringkali diklakson, atau dengan kata lain agar minggir. Mengalah tentu lebih baik, dengan pindah ke jalur tengah. Nah disinilah lebih banyak keanehan. Masih dengan kecepatan batas diijinkan, entah sudah berapa kali mobil yang dikendarai disalib kendaraan melalui sebelah kiri. Melihat laju kendaraan-kendaraan yang menyalib, rasanya kecepatan mereka minimal 120 km/jam. Tidak  sedikit juga kendaraan itu menyalib secara zigzag, yang penting disaat ada ruas kosong, baik di kiri-tengah-atau kanan maka kendaraan akan menyalib melalui ruas jalan tersebut. Sama sekali tidak mengindahkan aturan menyalib dari sebelah kanan, sesuai aturan lalu lintas. Lebih parah lagi, ada yang menyalib melalui bahu jalan, yang sebenarnya hanya diperuntukkan bagi kendaraan dalam keadaan darurat (mogok atau kondisi darurat lainnya).

Melihat kenyataan ini penulis hanya bisa tersenyum getir. Pantas saja angka ini begitu tinggi dan jadilah angka sebesar itu menjadi layak dengan etika pengendara tol di negeri ini. Jika memang demikian, apakah tidak ada solusi untuk keadaan ini?

Ada, jawabnya.  Ketidakdisiplinan pengendara terjadi karena mereka belum menyadari pentingnya keselamatan berkendara yang baik. Ini adalah masalah hati, atau moral sebagai aspek pertama. Pembenahan perlu diarahkan melalui pembentukan moral dan etika keselamatan berkendara agar menjadi nilai-nilai yang tertanam di setiap pengguna jalan raya. Tapi apakah dengan ini saja cukup? jawabnya juga tentu tidak. Jika hanya ada satu pengendara yang bermoral, sedangkan 10 lainnya masih ‘amoral’, maka pengendara yang bermoral itulah yang dianggap salah. Persis pengalaman penulis, dan juga segelintir kecil pengendara minoritas lainnya yang sadar akan keselamatan berkendara.

Disinilah letak pentingnya aspek kedua, yakni sistem kontrol dan pengawasan. Penulis membayangkan adanya aspek pengendalian dan pengontrolan seperti halnya lalu lintas alat berat di dunia tambang. Berhubung pernah mengunjungi beberapa areal tambang besar di indonesia, sangatlah efektif dan efisien melihat pengawasan aspek keselamatan kerja alat berat di sana. Di areal tambang, setiap operator alat wajib mengenakan alat keselamatan kerja (helm, sabuk dll), kemudian wajib mempunyai ijin mengemudikan alat berat sesuai kompetensinya, selanjutnya wajib mematuhi aturan K3 sangat ketat. Setiap hari, sebelum mengoperasikan alat berat, mengikuti briefing K3 dan sehabis cuti panjang juga wajib mengikuti penyegaran K3. Di setiap lintasan  jalur alat berat, ada rambu2 tanda yang jika dilanggar maka operator akan kena sanksi berat. Masih ditambah adanya radar kendaraan berupa speed gun-letaknya tersembunyi- yang mencatat kecepatan unit alat berat di lintasan. Tentu dengan segala aturan dan sistem kontrol seketat tersebut, masih ada kemungkinan terjadinya kecelakaan. Namun tidaklah sebanding dengan angka kecelakaan di jalan tol seperti disebukan diatas.

Dengan perimbangan antara pelaksanaan aspek pertama dan sistem kontrol/pengawasan sebagai aspek kedua- seperti yang dilakukan didunia tambang-diterapkan di jalan raya, rasanya angka kecelakaan bisa diturunkan lebih dari 50%.  Kebutuhannya pun sederhana,yakni  pengawasan ketat dan penegakan aturan bagi pelanggar.  Tambahan alat kontrol speedgun juga diperlukan, sebagai bukti pengendara agar tidak bisa lagi berkelit. Hanya saja ini masalah eksekusi, beranikah kita melaksanakannya?

10 pemikiran pada “Jalan toll dan etika berkendara

  1. Mas, mungkin yang bikin aturan min 80km/jam perlu review lagi batasannya. Aturan 80 km/jam itu ada sejak tol pertama dibuka, mungkin itu aturan tahun 80-an atau 90-an, saat mobil masih belajar jalan, nggak tau deh. Intinya, hari gini mobil sebagian besar diatas 1500 cc, dengan mesin dan tarikan yahut, justru aneh ada batas maximal 80 – 100 km/jam. Menurut saya malah menghambat. DI jerman, tidak ada speed limit, namanya juga jalan tol, dan jumlah kecelakaan tetap rendah, walaupun bisa di argue bahwa kemampuan berkendaranya lebih baik. Di belanda, batasnya juga lebih makes sense, 120 km/jam… dan disetiap sudut ada speed camera, yang siap mengambil foto nomer kendaraan kita at anytime kita melebihi batas kecepatan, dan otomatis mengirimkan tagihan denda anda ke rumah sesuai nomer mobil. Menurut saya, batas minimal di jalan toll adalah 80 km/jam dan maximal 120 km/jam. Yg 80 km/jam please ambil jalur kiri, up to 100 km/jam di tengah dan up to 120 km/jam berhak di jalur kanan. To be honest, sangat mengesalkan melihat pengendara lambat di jalur kanan… justru penyebab kecelakaan karena yang lambat menghambat yang cepat dan membuat pengendara lain kaget atau kagok dan terpaksa banting setir kiri kanan untuk mendapatkan jalur yang lebih layak. Apalagi kalau 2 mobil jalan barengan di dua jalur dengan kecepatan yg sama. Memangnya jalan tol itu altar pernikahan, mesti barengan nutupin jalur… I think slow driver should also ralize that they are endangering others life… orang beda kepentingan di jalan tol, ada yg senang nyetir sampai lambat2, ada yang butuh cepat… kalo mau nyetir 80km/jam, ngapain ke jalan toll, arteri juga bisa.

    • Sebenarnya aturan itu juga dibuat sesuai kondisi jalan. Perbedaan kualitas jalan toll akan mempengaruhi batas maksimal kecepatan yang diijinkan. Bisa dilihat, di jalan toll jagorawi, batas max adalah 100 km/jam dan batas min adalah 80 km/jam, itupun tergantung ruas jalannya. Ada ruas jalan yang mengakomodir 100 km/jam tetapi ada juga yang hanya max 80 km/jam.
      Perbedaan kecepatan di tiap ruas jalan toll diperlukan, karena memang adanya perbedaan kontur jalan, kondisi jalan, tikungan dll. Yang membuat aturan kecepatan di jalan toll juga sudah memperhitungkan aspek kondisi jalan raya dan faktor keselamatan sehingga muncullah angka tersebut. Dan menurut saya itu wajar, karena toll cipularang sendiri termasuk toll yang cukup memiliki tingkat kesulitan berkendara lebih tinggi (banyak tikungan, tanjakan/turunan dll)dibandingkan jalan toll jagorawi misalnya, sehingga ada perbedaan batas max kecepatan.
      Kalau membandingkan dengan jalan toll di luar negeri, ya mesti sejajar. Mereka sudah memiliki kualitas jalan toll lebih baik, radar speed gun, dan penegakan aturan. Kalau indonesia, rasanya belum ada kabar orang ditilang di jalan toll karena melebihi kecepatan max oleh polisi dengan catatan speed gun, sehingga makin lama orang merasa enak saja melanggar kecepatan. Di indonesia masalah disiplin berkendara dan penegakan aturan sangat rendah. Seperti contoh yang disebutkan, jika memang kecepatannya rendah ya ambil lajur paling kiri dan seterusnya. Berkecepatan rendah dibawah kecepatan minimal yang diijinkan memang dapat mengganggu pengendara lain. Tetapi jauh lebih berbahaya berkecepatan tinggi diatas batas yang diijinkan.
      Padahal, dijalan umum seharusnya pengendara menerapkan defensive driving, yakni dituntut untuk waspada, sadar, sikap mental dan antisipasi :
      – Waspada artinya, selalu berkendara dengan benar dan menghindari pengendara lain yang ugal-ugalan
      – Sadar artinya mematuhi aturan berkendara yang benar sesuai aturan
      – Sikap mental artinya tidak egois dan mengutamakan kepentingan umum
      – Antisipasi artinya memiliki skenario dan evaluasi setiap berkendara.
      Sayangnya sedikit sekali pengendara disini yang memiliki sifat diatas, kebanyakan malah agressive driving.

      salam,
      Tshahindra

  2. Pada dasarnya pengaturan batas kecepatan di jalan tol,juga di jalan arteri di dasarkan pada beberapa faktor antara lain banyaknya tikungan,banyaknya tanjakan,atau bisa juga keadaan temperatur dimana jalan tersebut berada.Karena hal hal yang tadi disebutkan secara langsung mempengaruhi jarak pandang manyalip ataupun jarak pandang untuk berhenti atau mengerem.Kalau melihat dari struktur jalan di tol cipularang yang berbelok belok dan mendaki juga menurun hal itulah yang menjadi salah satu pertimbangan untuk membuat peraturan mengenai batas kecepatan.Dan yang menjadi salah satu pertimbangan juga karena suhu yang mungkin lebih dingin maka struktur aspal juga turut mempengaruhi sehingga secara tidak langsung juga ikut menjadi parameter bagi batas kecepatan.

  3. Toll Cipularang rawan kecelakaan.

    Seperti yang sudah ditulis sebelumnya, faktor pengendara adalah lebih utama.
    Penyebab kecelakaan lebih banyak disebabkan karena perilaku berkendara yang tidak aman dibandingkan situasi yang tidak aman.

    Banyak kabar yang beredar di milis, online messenger mengenai adanya faktor mistik dibalik kecelakaan. Saya menghindari hal itu, karena tidak logis. Cobalah kita melalui jalur cipularang dan cek, berapa batas kecepatan maksimal yang diperbolehkan. Angkanya adalah 80 km/jam. Angka tersebut tentu sudah memperhitungkan faktor kontur jalan, tikungan turunan sehingga angka kecepatan tersebut angka maksimal.

    Jika ada pengendara mengemudi di atas kec. 80 km/jam di tol cipularang, maka dia sebenarnya sudah menyalahi aturan dan mengambil resiko kecelakaan. Inilah yang sebenarnya terjadi pada seringnya kecelakaan yang ada di jalan toll cipularang, yaitu lebih banyak pengendara yang tidak mengindahkan aturan keselamatan.

    Karena itu, saya lebih melihat faktor pengendara adalah faktor utama penyebab terjadinya kecelakaan di toll cipularang.

    salam,
    Tengku Shahindra

  4. speed limit 80-100 km/h are you kidding? speed segitu untuk mobil 1,5l baru pake gear 3. Terus kan lajur kanan hanya untuk mendahului, orang nyalip dari sisi kiri karena ada kendaraan yang jalan pelan dan tidak dalam kondisi mendahului menutup lajur kanan. sama2 pengertian lah, disalip dari kiri protes, tapi jalan pelan di lajur kanan

    • Yupp anda benar 80-100 km/jam?
      Itulah yg tertulis di rambu peringatan batas kecepatan. Jikalau menurut anda hal itu tidak sesuai, maka sebaiknya minimal anda membuat pernyataan tertulis kepada pihak jalan tol dan atau pihak kepolisian lalu lintas. Karena itulah peraturan yang mereka buat sebagai rambu untuk pengendara agar aman, tertib dan disiplin tentu nya.
      Ingat lah negara ini diatur dengan undang – undang, yang salah satu nya adalah undang – undang lalu lintas.

      Trims

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s