Menyikapi krisis : langkah Venezuela di Amerika Latin

hugo-chavezAda contoh studi menarik yang bisa dipelajari dalam menghadapi krisis. Kali ini kita akan melihat negara di Amerika Latin, yakni Venezuela. Dibawah pimpinan presiden Hugo Chavez – yang beraliran demokrat sosialis- terlihat bahwa negaranya tidak mau ‘didikte’ oleh negara-negara lain dalam mewujudkan kemandirian ekonomi. Meskipun demikian, tidak berarti negaranya memiliki ketertutupan seperti yang pernah dilakukan bekas negara komunis di eropa timur, namun sebaliknya malah menggalang persatuan dan kesatuan regional dari ketergantungan kepada negara kapitalis, dengan mewujudkan kekuatan regional sendiri yang bisa disebut sebagai ‘independensi regional’.

Sikap menentang terhadap kapitalisme ini, diwujudkan dengan rencana Venezuela keluar dari IMF dan Bank Dunia, april 2007 setelah negara ini melunasi semua utang-utangnya kepada IMF. Demikian juga utangnya kepada Bank Dunia, telah dilunasi lebih cepat lima tahun dari yang direncanakan. Mengenai rencana venezuela keluar dari dua lembaga yang dianggap sebagai ‘corong utama’ dan kepanjangan tangan amerika, dikatakan Hugo Chaves, bahwa dia tidak ingin mendapat bantuan dari Bank Dunia dan IMF yang akan memaksa negaranya untuk mengubah harapan, jiwa dan kesulitan mereka.

Wujud solidaritas terhadap negara amerika latin lainnya dilakukan ketika Argentina melunasi utangnya ke IMF pada akhir Desember 2005. Venezuela dengan segera menyuntikkan dana 2.5 milyar dollar. Bantuan ini membantu menyelamatkan Argentina dari terulangnya krisis finansial, yang terjadi pada tahun 2001. Venezuela juga membeli surat utang negara Ekuador senilai 300 juta dollar.

Ketika salah satu sekutu dekat Chavez, yakni Presiden Bolivia Evo Morales, mencanangkan nasionalisasi industri gasnya, sudah diduga reaksi keras langsung datang dari negara kapitalis Amerika. Bush segera membatalkan segala jenis bantuan militer, bantuan pemberantasan obat bius dan juga membatalkan rencana impor kedelai dari bolivia senilai ratusan juta dollar. Namun, Chavez mengambil langkah cepat dengan mengumumkan akan membeli semua kedelai yang semula akan diekspor ke amerika. Bahkan menambahkan komitmen senilai 100 juta dollar, untuk program-program reformasi ekonomi lainnya di Bolivia.

Chavez juga membentuk suatu lembaga yang menggantikan peran Bank pemimpin-negara-amerika-latin1Dunia di amerika latin yakni Compensatory Fund for Structural Convergence. Lembaga keuangan yang merupakan bagian dari proyek ALBA (The Bolivarian Alternative for Latin America) ini tugasnya mirip dengan Bank Dunia pasca perang dunia II yakni : mengelola dan mendistribusikan bantuan keuangan kepada banyak Negara yang ekonominya rentan oleh krisis. Dengan Compensatory Funds ini, Negara-negara miskin dibantu untuk mengurangi risiko kerugian hingga ke tingkat yang tidak membahayakan ekonomi nasionalnya.  Dengan status ini, Venezuela memposisikan dirinya sebagai negara donor baru di Amerika Latin, menggantikan peran IMF. Akibatnya, ya jelas. IMF kehilangan eksistensinya dan bantuan IMF di kawasan Amerika Latin jatuh sampai sebesar 50 juta dollar atau kurang dari 1% dari portfolio IMF di dunia. Venezuela saat ini juga memiliki cadangan devisa senilai lebih dari 40 milyar dollar, disamping juga menguasai dana kontan dari perusahaan minyak bolivia Petroleos de Venezuela SA (PDVSA) senilai 18 milyar dollar. Bantuan ini, yang dinamakan solidaritas bolavarian, sama sekali tidak disertai persyaratan apapun yang harus dijalankan oleh negara penerima bantuan. Beda dengan IMF dan bank Dunia, yang persyaratannya justru malah membuat ekonomi makin terpuruk.

Untuk melembagakan solidaritas ini, Chavez mengusulkan dibentuknya bank regional yakni Bank Selatan atau Banco de Sur. Rencana pendirian ini sebagai suatu bank sentral Amerika Selatan, yang diharapkan dapat menghentikan lingkaran kemiskinan negara amerika selatan juga untuk menghindari krisis finansial akibat perdagangan global yang tidak seimbang. Pendirian bank selatan ini disusul dengan rencana pembuatan mata uang bersama Amerika Latin sebagai alternatif lembaga-lembaga keuangan dan moneter international yang dikendalikan Amerika Serikat dengan dominasi mata uang dollar. Mirip dengan langkah negara-negara eropa, yang kemudian bersatu membentuk Uni Eropa, disusul bank sentral Eropa dan membuat mata uang bersama Euro.

Mengapa Venezuela berani mengambil langkah tersebut. Tentunya ini dilandasi kepercayaan bahwa dengan kemandirian ekonomi, independensi regional dan kekayaan alam yang ada di negaranya bila dikelola sendiri, tentu tidak perlu campur tangan asing. Inilah yang tidak dikehendaki amerika, karena amerika tahu bahwa venezuela merupakan salah satu negara yang amat kaya dengan sumber daya alam. Tak heran, Hugo Chavez berani mengatakan bahwa sekarang IMF dan Bank Dunia dalam keadaan krisis. Selain itu, Chavez juga mulai mengambil alih pengendalian proyek minyak dan gas bumi di Sabuk Orinoco, yang menurut pengamat merupakan cadangan minyak bumi terbesar di dunia setelah Arab Saudi. Bahkan bila dikelola dengan teknologi modern, mungkin akan menjadi cadangan minyak bumi terbesar di dunia, dan akan menempatkan Venezuela sebagai pemilik cadangan minyak bumi terbesar menggeser posisi Arab Saudi. Amerika, sebagai negara yang ‘haus’ energi tentu menyadari potensi kekayaan tersebut. Namun kali ini tampaknya upaya menguasai amerika latin ibarat membentur tembok kukuh, dengan berhasilnya negara-negara di amerika latin (Venezuela, Brazil, Argentina, Bolivia, Honduras,Kuba, Nikaragua,Dominica) membentuk persatuan regional. 

Bagaimana dengan Indonesia? beruntung, ada negara-negara asia yang banyak belajar dari krisis terdahulu. Adanya ketidakpercayaan terhadap IMF dan ketidakpastian fluktuasi finansial global melahirkan Chiang Mai Initiative, sebuah aransemen kerjasama regional baru yang dibuat oleh ASEAN+3 (Jepang, China dan Korea Selatan), yang ditujukan untuk memperkuat ketahanan setiap negara di kawasan ini terhadap serangan krisis finiansial. Kerjasama yang paling kongkrit adalah dalam hal saling membantu memperkuat cadangan devisa di saat tanda-tanda krisis mulai tampak. China berulangkali mengisyaratkan bahwa penggunaan dollar sebagai cadangan devisi untuk ditinjau ulang, karena dipandang tidak menguntungkan. Mudah-mudahan langkah kongkrit dalam menyediakan cadangan devisa bersama, mampu membantu negara-negara asia dalam perubahan ekonomi global yang diawali dengan krisis finansial di AS yang menyeret krisis ekonomi global, di akhir tahun 2008 maupun tahun 2009 ini. Semoga.

Satu pemikiran pada “Menyikapi krisis : langkah Venezuela di Amerika Latin

  1. Ping balik: Bagaimana kondisi minyak di Indonesia? | ilmu SDM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s