Tahun 2009 Bagaimana perusahaan dan kita menghadapinya? (2)

economic-crisisMengharapkan bantuan, stimulus atau paket-paket insentif dari pemerintah dalam menghadapi krisis mungkin waktunya tidaklah bisa secepat diharapkan. Pemerintah tentu punya pertimbangan makro dan mikro dalam menyusun paket bantuan program yang bisa mencegah dampak krisis ekonomi meluas. Sebagai contoh, jika pemerintah menggunakan stimulus moneter (suku bunga bank, pajak, bea cukai, bantuan likuiditas dll), efeknya tentu tidak secepat dan sedrastis jika pemerintah menurunkan tarif BBM, tarif toll, pelayanan satu atap ataupun program penghapusan hambatan-hambatan ekonomi biaya tinggi lainnya. Saat ini yang terjadi adalah kejar-kejaran antara penurunan/perlambatan ekonomi dengan upaya mencegah terjadinya krisis lebih besar.

Perusahaan di indonesia tentu dapat melakukan langkah sendiri yang bisa mencegah dampak krisis meluas. Upaya pertama tentu saja yang paling mudah adalah perbaikan internal, karena ini langsung berdampak pada efektifitas dan efisiensi operasional. Sedangkan perbaikan eksternal, tidak bisa dilakukan sendirian perlu kolaborasi dan usaha lebih keras karena terkait dengan peran pemasaran, pemerintah, produk pasar, komunitas, serta aspek eksternal lainnya.

Langkah perbaikan internal menghadapi dampak krisis dan upaya mempertahankan kelangsungan hidup organisasi antara lain :

       Melaksanakan program peningkatan efisiensi dan efektifitas operasional. Lakukan efisiensi, peningkatan produktifitas dengan memberdayakan serta membudayakan program seperti : continuous improvement, suggestion system, quality control circle dll tanpa pengecualian ke semua area fungsi organisasi. Tentu faktor utama ada di core process business perusahaan. Sekali lagi, perusahaan-perusahaan besar dan ternama selalu melakukan continuous improvement secara berkelanjutan dan sudah menjadi budaya sehari-hari. Perbaikan proses untuk langkah kerja yang lebih efisien bukan dilakukan dalam hitungan bulan, bahkan sudah sampai skala hari atau shift dalam hari itu. Melakukan continuous improvement merupakan perbaikan yang tidak mengganggu proses bisnis perusahaan, dan memiliki resiko rendah kegagalan. Berbeda halnya dengan model perbaikan Business Process Reengineering, dimana tingkat manfaat/benefit dan resiko kegagalannya juga tinggi.

       Pertimbangkan kembali struktur organisasi anda, apakah sudah fit dengan kondisi sekarang? Apakah sudah efisien dan efektif?. Organisasi yang gemuk cenderung menyimpan hidden cost yang tinggi. Cek lagi efektifitas struktur organisasi anda dengan menghitung total biaya organisasi, rentang kendali manajemen (rasio manager/worker) , biaya pengelolaan (gaji manager / gaji worker), lapisan manajemen (jumlah lapisan struktural dalam organisasi).Seandainya dihitung dengan benar, mungkin anda kaget dengan sendirinya. Kenapa begitu besar?.  Lihat kembali apakah ada duplikasi pekerjaan di dalam fungsi/posisi organisasi. Jika ada mungkin perlu digabung atau dimerger. Jika lapisan manajemen (management layer) terlalu banyak juga cenderung tidak baik, karena menyebabkan organisasi terlalu hirarkis. Seorang CEO ternama pernah mengatakan : “One layer is one problem, two layer is 50 problems, three layer..you get the real bullshit” jadi…rampingkan organisasi anda. Lebih datar lebih baik.

       Adopsi budaya intrapreneurship dengan mengakomodir ide-die entrepreneur dari karyawan. Kelihatan aneh, sepertinya disaat krisis justru malah mengembangkan usaha. Jika berpikir kebalikan, disaat krisis justru kadang orang mampu menelurkan ide-ide terbaik mereka. Menurut salah satu motivator terkenal, manusia dalam keadaan kepepet, mampu mengeluarkan daya survivalnya dan akan mengaktifkan otak kanan yang terkait dengan kreativitas, ide-ide dan segudang daya inovasi lainnya.  Nah, berdayakan hal ini. Mungkin ada peluang-peluang usaha baru yang muncul dari adanya krisis dan bisa membantu bisnis utama perusahaan, dengan mengakomodir peluang-peluang usaha yang layak diimplementasikan.

Sekali lagi, upaya dengan melakukan PHK kepada karyawan, hendaknya menjadi langkah terakhir sebagai salah satu cara mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, tentunya setelah melakukan semua langkah2 perbaikan baik internal maupun eksternal. Jika memang hal tersebut tak dapat dihindari, maka sebaiknya dilakukan dengan langkah yang adil dan bijak.

Satu pemikiran pada “Tahun 2009 Bagaimana perusahaan dan kita menghadapinya? (2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s