Krisis global dan pekerja (1)

harga-turunAkhir tahun 2008, mungkin menjadi tahun yang berat bagi perusahaan di Indonesia. Namun, krisis finansial (saya lebih suka menyebutnya sebagai krisis ekonomi) tahun 2008, diperkirakan banyak pengamat akan terus berjalan sampai tahun 2009. Indonesia, sebagai negara yang juga terkait dengan perdagangan global diperkirakan juga mengalami dampak krisis ekonomi dunia. Lantas, bagaimana krisis ekonomi global ini bisa mengimbas ke negeri kita?

Semuanya diawali oleh negara kapitalis amerika. Karena pemikiran dan nafsu kapitalis untuk meraih keuntungan setingginya, mereka membangun proyek properti yang nantinya akan dikreditkan kepada orang-orang. Sudah menjadi fakta umum dahulu, bahwa harga rumah di amerika cenderung naik dari tahun ke tahun dan bunga (baca:riba) bank di amerika sangat rendah.

Dengan demikian si kapitalis ini, dengan memanfaatkan modal dari bank, mengucurkan kredit secara besar-besaran kepada orang untuk mengambil properti. Ketika semua orang layak kredit sudah mendapatkan kredit tersebut, mereka pun memberikannya kepada orang yang tidak layak (subprime). Mereka sengaja memberikan, dengan harapan andaikata pun tidak bisa bayar kredit lagi, rumah bisa diambil dan dijual kembali dengan harga tinggi. Orang yang tak layakpun berani berkredit, karena sebelum cicilan lunas pun, bisa dijual kembali dengan harga tinggi.

Karena nafsu serakah inilah, kredit beresiko tinggi tersebut harus disekuritisasi, dengan menerbitkan surat utang baru. Oleh bank pemberi kredit (KPR) tersebut, dijual lagi ke perusahaan pembiayaan properti seperti Freddie Mac-Fannie Mae, lanjutnya dibuat surat utang-surat utang baru untuk diamankan (sekuritsasi) yang kemudian dibeli oleh perusahaan investasi seperti Lehman Brothers. Saking banyaknya sekuritisasi ini, maka sering disebut sebagai sekuritisasi kuadrat, mulai dari asuransi dan seterusnya. Sehingga surat utang tersebut memberi efek domino, contohnya : surat utang A ini akan gagal bayar, jika perusahaan B gagal bayar, surat utang B ini akan gagal bayar jika perusahaan C gagal bayar dst.

Nah, ternyata mulai tahun 2006 harga rumah mulai stagnan, ketika semua orang yang layak dan tidak layak sudah memiliki rumah dari KPR. Tidak ada lagi orang mengambil KPR, sehingga orang-orang mulai ragu dengan harga properti yang ada maupun kelangsungan hidup kredit yang diberikan. Karena keraguan tersebut, perusahaan mulai menagih surat utang mereka, dan timbul ‘efek domino’ dari penagihan surat utang tersebut. KPR pun banyak macet, sedangkan pihak yang ditagih tak sanggup membayar surat utang tersebut (gagal bayar), akhirnya bank penerbit surat utang banyak yang merugi. Inilah awal runtuhnya ekonomi Amerika, sehingga perusahaan Bear Stearn dan Lehman Brothers bankrut, dan raksasa properti amerika Freddie Mac-Mae juga jatuh dan perlu di bail-out. Tentu saja, karena surat utang yang terbit berlapis-lapis tersebut, juga dibeli investment institution baik di dalam maupun di luar amerika, maka perusahaan besar seperti Merril Lynch, Goldman Sachs dan JP Morgan terpaksa minta bantuan pemerintah Amerika untuk diselamatkan.

Jika dihitung, biaya untuk menanggung perusahaan tersebut sangat besar. Belum lagi efek berantai terhadap ekonomi amerika yang depresi, sehingga permintaan barang konsumsi dan manufaktur menurun seperti yang dialami the big three pembuat mobil, GM, Chrysler dan Ford. Total diperkirakan mencapai 2 trilyun USD s/d 5 trilyun USD, atau kalau dirupiahkan antara 22 ribu trilyun rupiah sampai dengan 55 ribu trilyun rupiah..!! Melihat angka tersebut, saya geleng-geleng, apa benar ada uang sampai sebegitu besar? Darimana mereka ambil uang tersebut?apa saja yang mereka lakukan untuk menyelamatkan ekonomi amerika?

Untuk memenuhi likuiditas (uang) mereka, para investor luar yang memiliki investasi di amerika mulai menarik uang-uangnya yang ditanamkan termasuk di indonesia. Karena ditarik, maka indonesia kekurangan uang valas (baca :dollar) sehingga rupiah melemah. Bursa efek indonesia pun anjlok, karena lebih banyak investor yang menjual sahamnya. Karena rupiah melemah, bank sentral terpaksa menjual dollar kepada bank-bank di indonesia, sehingga rupiah pun berkurang di bank.Otomatis, bank menaikkan kredit untuk menyerap rupiah yang di pasar, karena mereka kesulitan likuiditas yang diikuti juga lebih selektif memberikan kredit atau stop kredit.Karena bank stop kredit, perusahaan juga sulit melakukan pembayaran barang dengan skema kredit dari bank, akhirnya mulai stop order. Akibatnya perusahaan atau pabrik-pabrik itu mulai melakukan efisiensi mulai dari menaikan harga jual, menurunkan nilai produksi hingga pengurangan karyawan. Inilah yang sekarang sedang terjadi di Indonesia. Ekspor-impor banyak yang macet dan sebagainya yang menyebabkan pelaku usaha banyak yang rugi yang pada akhirnya berimbas pada masyarakat secara umum. Inilah yang sedang terjadi pada ekonomi indonesia di tahun 2008 dan mungkin akan berlanjut sampai tahun 2009. Tentu dampak ini akan berpengaruh kepada tenaga kerja yang bisa berakibat pemutusan hubungan kerja, rasionalisasi dan efisiensi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s