UMR, antara kelayakan dan kehidupan

umr

Sehubungan dengan pekerjaan yang menumpuk, sehingga harus lembur, sore itu akhirnya saya keluar kantor untuk mencari makanan di sekitar kantor di bilangan jakarta selatan. Ada beberapa warung yang menyediakan makanan, akhirnya pilihan jatuh ke warung sate. Maklum, saya termasuk penyuka makanan yang ada unsur kacangnya.

“Satu porsi sate ayam berapa bang..?” tanya saya ke tukang sate

“Dua belas ribu, termasuk nasi..”

“ Ok..satu porsi ya..” jawab saya sambil mencari tempat duduk . Harga yang cukup murah untuk satu porsi sate. Saat itu saya belum melihat daftar harga di tukang sate, karena asumsi saya harga sate ayam biasanya lebih murah daripada sate kambing. Tapi begitu duduk, saya melihat ternyata tertempel daftar harga di gerobak tukang sate, tertulis harga sate ayam Rp. 12.000 (10 tusuk+nasi) dan sate kambing Rp.12.000 (10 tusuk +nasi).

Lho bang..ini harga sate ayam ama sate kambing sama ya ?”

“iya mas…sama harganya” jawab tukang sate sambil mengambil sate yang masih mentah di dari wadah penyimpanan.

Wah..saya ganti sate kambing aja bang..gak jadi sate ayamnya…bumbu kacang ya bang..” tukas saya dengan cepat, khawatir jangan-jangan sudah keburu dipanggang satenya. Untung saja belum dilakukan oleh abang sate, dan si abang oke-oke saja dengan permintaan saya itu. Baru kali ini saya melihat, harga sate ayam dan kambing sama. Mungkin karena permintaan sate ayam lebih tinggi daripada sate kambing, maka si abang menerapkan strategi pricing agar sate kambing cukup laku. ” Hebat juga ini abang sate…” pikir saya sambil senyum-senyum. Jelas, bagi saya lebih nikmat makan sate kambing daripada sate ayam, sampai-sampai ada teman yang  pernah bilang, namanya sate itu ya dari kambing. Kalau bukan kambing, bukan sate namanya.

Sambil menunggu sate matang, saya melihat ada dua orang karyawati datang juga ke warung sate. Kelihatan dari baju seragam yang dikenakan, mereka adalah pekerja di mall, yang tepat bersebelahan dengan kantor saya.

“ Bang..sate ayam satu porsi ya plus tambah nasi satu piring lagi..” kata salah seorang karyawati kepada abang sate.

“ Iya neng..makan disini?”

“ Iya bang…” jawab karyawati tersebut.

Mendengar percakapan tersebut saya jadi berpikir. Ternyata dua karyawati ini membagi lauk mereka untuk dimakan berdua. Artinya, dengan sharing cara ini, masing-masing cukup membayar tujuh ribu rupiah, karena tambahan nasi satu piring dihargai dua ribu rupiah. Setelah sate matang, saya segera makan sate kambing tersebut, sambil melihat kedua karyawati yang saling membagi sate yang terletak di satu piring. Saya pun menikmati sate kambing sore tersebut sambil berpikir kenapa mereka membagi porsi sate, karena bagi saya 5 tusuk sate terlalu sedikit untuk dimakan sendiri. Harganya pun sangat terjangkau untuk ukuran saya, tapi apakah cukup terjangkau untuk ukuran mereka? Ternyata hal ini membawa pikiran saya untuk melangkah lebih jauh.

Sepulang makan sate sore itu saya pun kembali ke kantor dan mencoba mencari tahu jawaban sendiri. Sebagai karyawati mall, saya duga mereka mendapat gaji sama dengan UMP DKI jakarta. Data SK UMP DKI jakarta tahun 2008,sesuai SK Pemda DKI no 143 tahun 2007 adalah Rp 972.604,80 (saya tidak mengerti kenapa sampai ada nilai sen di keputusan tersebut). Angka tersebut merupakan hasil dari rekomendasi Dewan Pengupahan DKI.

Karena biasa berpikir analytis, synthesis saya jadi ingin tahu lebih lanjut. Angka tersebut tentu tidak muncul dari langit begitu saja. Pasti ada hal-hal sebagai dasar dan pedoman penetapan angka tersebut. Kembali saya eksplorasi mendalam, ternyata ada peraturan menteri mengenai penentuan komponen kehidupan layak (KHL) bagi pekerja lajang, yakni Permen no 17/Men/VIII/2005.

Menarik juga Peratuan Menteri ini. Ada komponen penentuan kehidupan layak berdasarkan apa yang diperlukan untuk hidup, dengan acuan 3000 kalori. Komponen tersebut dibagi 7 bagian besar, diurutkan mulai dari kebutuhan pokok sampai tersier. Komponen utamanya adalah : Makanan, Sandang, Perumahan, Pendidikan, Kesehatan, Transportasi, sampai Rekreasi/Tabungan.

Melihat komponen tersebut, ternyata amat lengkap menurut saya. Semua kebutuhan didasarkan pada komponen yang umum dikonsumsi orang indonesia. Untuk makanan saja, selain tercantum nama komponen seperti beras, daging, ikan, telur, teh dan bumbu juga jumlah (kuantitas) kebutuhan maupun kualitas tersebut. Untuk komponen sandang, juga dicantumkan komponen baju (6 buah setahun), kaos oblong/bra (6 buah/tahun), handuk mandi (1 buah/tahun), sandal jepit (2 buah/tahun) dst. Bahkan untuk komponen kesehatan, tercantum pasta gigi, sabun, sikat gigi, shampo, potong rambut, pembalut/alat cukur, dan obat anti nyamuk.

Lengkap sekali daftar yang dibuat, dan dari daftar ini saya melihat bahwa komponen yang tercantum benar-benar semua yang diperlukan untuk kebutuhan seorang lajang pada kalori 3000. Dilihat dari kualitas dan kuantitas, perhitungannya sudah pas menurut saya. Kualitas yang diberikan dalam daftar tersebut umunya adalah kualitas sedang.

Kejadian selanjutnya,  tentu bisa ditebak. Saya pun melakukan survei harga kecil-kecilan terhadap semua kebutuhan barang tersebut. Beruntung, selama ini saya mendapat tugas belanja bulan kebutuhan rumah tangga tiap bulan. Seringkali juga setiap pembelian barang perlengkapan rumah, selalu ikut serta. Makanya kalau ditanya mulai dari harga telur, minyak goreng, pasta gigi, sabun cuci, wajan, termos, piring, gelas sampai harga obat nyamuk, saya bisa memberikan kisaran harga paling mendekati kebenaran.

Harga hasil survei (bulan november 2008)., kemudian saya masukkan ke dalam program worksheet untuk dikuantitaskan dan dijumlahkan. Dan pada akhirnya keluar angka, yang jumlahnya ternyata berbeda cukup jauh dengan angka UMP sesuai SK DKI. Saya sendiri kembali mengecek ulang, bila terjadi kesalahan dalam penginputan data atau mungkin kesalahan rumus dari worksheet. Ternyata tidak ada yang salah, tetap angka tersebut keluar. Dan karena pakai rumus, angka yang keluar juga ada sennya, persis angka UMP DKI.

Angka yang keluar adalah Rp. 1.551.366,60 (sekarang saya jadi mengerti kenapa sampai ada angka sen di UMP). Jumlahnya lebih tinggi 60% dari angka UMP sesuai SK gubernur DKI. Berarti jika perhitungan saya ini benar, maka batas minimum kehidupan layak sesuai komponen hidup layak (KHL) adalah sekitar 1.5 juta rupiah lebih sedikit. Agak mengejutkan juga data ini, tapi jika dipikir-dipikir memang dengan angka tersebutlah seorang lajang bisa hidup sederhana di wilayah jakarta.

Ok, anggaplah Dewan Pengupahan menggunakan angka tersebut adalah komponen harga tahun 2007, yang tentu saja berbeda dengan komponen harga di bulan november 2008. Saya lalu markup angka UMP DKI jakarta sekitar 15% dari angka sebenarnya. Maka jumlahnya tetap masih dibawah angka perhitungan “dewan pengupahan” versi saya, dimana angka saya masih lebih tinggi 38% dari angka UMP DKI yang sudah dimarkup.

Apakah saya yang salah atau dewan pengupahan yang menetapkan harga, saya tidak mengerti. Disini ada perbedaan antara kebutuhan dan kelayakan hidup bagi pekerja level ‘blue collar’ atau strata terendah. Saya percaya, jika perusahaan mampu membayar lebih dari UMP kepada karyawannya, sudah seharusnya perusahaan melakukan itu. Saya memuji perusahaan seperti itu.  Namun bila belum mampu, memang upah UMP yang ada cukup membuat karyawan tersebut melakukan program ‘pengiritan’. Mungkin langkah makan ‘satu lauk’ berdua adalah salah satu solusi yang dilakukan karyawan.

Jakarta, 1 Desember 2008

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s