Inovasi, penggerak kunci kemajuan organisasi

Oleh : Tengku Shahindra (*) 

Dalam abad informasi ini, penekanan diutamakan terhadap aset tidak nyata (intangibles) merupakan hal yang tidak terbantahkan. Riset yang dilakukan oleh Brooking Institution (2002) telah menunjukkan kecenderungan pasar yang menghargai lebih besar pada aset tidak nyata sampai lima kali lipat dibandingkan satu dekade sebelumnya. Bill Gates, Founder Microsoft mengatakan : “Aset utama perusahaan kami, yang berupa software dan kemampuan pengembangan software, tidaklah terlihat dalam balance sheet sama sekali”. Tak heran, Microsoft tumbuh besar menjadi perusahaan global dengan nilai pasar sebesar 500 milyar dollar, hanya dengan karyawan sejumlah 20.000 orang. 

Ilustrasi diatas hanyalah merupakan contoh kecil dari  perusahaan raksasa yang ‘hidup’nya tergantung dari aset intelektual dan atribut aset tidak nyata.  Kinerja bisnis tingkat tinggi perusahaan banyak bergantung kepada intangible characteristic seperti : Kemampuan berinovasi, kemampuan untuk berubah, kecepatan terhadap pasar, pengembangan dan retensi karyawan terbaik, dan hubungan pelanggan. Perusahaan dengan ciri-ciri demikian, boleh dikatakan memiliki kapitalisasi pasar yang nilainya jauh melampui aset fisik nyata (tangible asset). Para analis finansial ketika diminta pendapatnya mengenai peringkat pengukuran non-finansial bagi bisnis, mengurutkan hasilnya sebagai berikut : eksekusi strategi, kredibilitas manajemen, kualitas strategi korporat, inovasi, kemampuan menarik dan menahan karyawan terbaik, pangsa pasar, kepakaran manajemen, kepemimpinan, kualitas bisnis proses utama. Jika melihat daftar tersebut, semuanya berkorelasi dengan aset tidak nyata seperti kepemimpinan, kualitas manajemen, karyawan, inovasi dan lainnya.

Mengelola aset tidak nyata : inovasi      

Aset tidak nyata memiliki sifat yang khas; antara lain : sulit untuk dikenali, sulit untuk dikuantifikasi, tidak tergambar dalam balance sheet, sulit untuk diduplikasi, mengalami apresiasi jika dikelola dengan benar, memiliki efek multiplier didalam bisnis, dan cenderung lebih dinamis dalam rentang waktu yang singkat. Perhatikan, jika diambil satu kemampuan inovasi sebagai aset tidak nyaa, maka tergambar seperti yang dijelaskan. 

Bagi perusahaan, investasi dalam inovasi menciptakan peluang untuk tumbuh dengan memberikan produk dan jasa yang lebih baik ke pasar. Dengan kata lain, perusahaan yang mampu berinovasi mampu mengubah peta pasar persaingan. Perhatikan, bagaimana Apple berinovasi dengan produk  iPod , iTunes dan iPhone, yang mengubah lingkungan persaingan bisnis gadget musik, personal entertainment, dan komunikasi digital.Inovasi, sebagai sebuah manajemen proses, membutuhkan sistem dan budaya yang tepat agar berjalan efektif. Ketika inovasi perusahaan berjalan selayaknya, maka inovasi menjadi sebuah sumber nilai bagi perusahaan, daripada suatu kegiatan yang terisolasi maupun aktifitas yang acak dalam sebuah perusahaan. Robert Shelton dan Tony Davilla (2005) dalam bukunya Making Innovation Work, agar inovasi perusahaan berhasil, sangatlah penting untuk mengerti elemen kunci inovasi perusahaan.  Elemen tersebut adalah Masukan : berupa dukungan strategi,struktur, proses, komitmen karyawan dalam inovasi, akses kepada karyawan berbakat; Proses : Portfolio inovasi berimbang, eksekusi efektif proyek, nilai tambah kemitraan, jalur kualitas inovasi; Keluaran : kinerja produk, kepemimpinan teknologi, perbaikan proses, pelanggan baru, pertumbuhan penjualan pelanggan tetap. Ketiga elemen tersebut akan memberikan Hasil yakni : pertumbuhan penjualan, pertumbuhan keuntungan dan nilai pasar perusahaan. Jika dilihat lebih lanjut, terlihat adanya dua dimensi pendukung yang mesti dipenuhi yakni dari sisi Sistem (struktur, teknologi, proses ) serta Budaya (komitmen karyawan, akses karyawan berbakat). Kedua dimensi yang kuat ini akan memberi dukungan penuh lahirnya inovasi sebagai sumber nilai bagi perusahaan. 

Lebih lanjut, inovasi sangat memerlukan pemikiran strategis dan kepemimpinan yang kuat. Agar percikan kreatifitas dapat ditransformasikan ke dalam semua tingkat, ada  aturan yang dibutuhkan agar proses inovasi dan sumberdaya tidak hanya tergantung kepada kepemimpinan dan strategi, namun juga terorganisasi secara luas dalam proses maupun sumberdaya di dalam perusahaan. Aturan tersebut adalah :

  1. Mendesak kepemimpinan yang kuat dalam keputusan portfolio

  2. Integrasi inovasi dalam budaya dan mental perusahaan sebagai kompetensi inti

  3. Penyelarasan jumlah dan tipe inovasi kedalam bisnis perusahaan

  4. Mengelola tekanan alami antara kreativitas dan nilai tambah secara seimbang sehingga memberikan tingkat pengembalian investasi yang optimal

  5. Menetralisir hambatan organisasi yang dapat membunuh ide-ide terbaik

  6. Mengenal bangunan dasar inovasi yang berupa jaringan antara manusia dan pengetahuan-baik di luar maupun di dalam organisasi, dan terakhir

  7. Menciptakan pengukuran metrik dan insentif yang tepat untuk memperkuat inovasi.

Nilai bagi organisasi 

Bagi perusahaan, inovasi yang berhasil membuahkan keuntungan yang signifikan. Viagra, produk andalan Pfizer yang diperkenalkan tahun 1998, meningkatkan nilai saham Pfizer dari US 70 menjadi US 106, lebih dari 60% hanya dalam 2 bulan. Apple, memperoleh kenaikan keuntungan sebesar 41% sejak iPod diluncurkan pada tahun 2004.  Tidak hanya perusahaan asing, perusahaan lokal yang inovatif juga mendapatkan manfaat yang sama. Perusahaan lokal seperti Bank Muamalat, dengan inovasi produk Shar-E telah membuahkan hasil yakni bertambahnya jumlah nasabah menjadi 150 ribu nasabah. Dengan strategi cerdik yakni menggandeng Pos Indonesia dan BCA sebagai mitra, bank Muamalat tidak perlu berinvestasi besar untuk memperoleh kenaikan nasabah secara signifikan. Tak heran, dengan produknya tersebut, bank Muamalat memperoleh Innovation Award dari Menristek/BPPT tahun 2005. 

Inovasi sebagai atribut aset tidak nyata merupakan hal penting bagi perusahaan agar memperoleh pertumbuhan berkelanjutan. Hanya perusahaan yang menekankan pada pengelolaan aset tidak nyata yang akan tetap bertahan dalam lingkungan bisnis, demikian dikatakan Tom Peters dalam Reinventing Work : The Professional Service Firm 50. Lebih lanjut, perusahaan dengan fokus adopsi pada aset tidak nyata, dapat saja merupakan perusahaan kecil atau besar. Dengan mengabaikan ukuran perusahaan, perusahaan jenis ini murni memiliki produk karya jasa intelektual, membuang jauh aset fisik perusahaan. Namun, sebaliknya menghasilkan deposit milyaran dollar dalam nilai pasar. Inilah yang disebut Tom sebagai perusahaan dengan karakteristik Professional Service Firm.

(*) Artikel ini pernah dimuat di koran Sindo, dengan edit oleh penulis

About these ads

2 pemikiran pada “Inovasi, penggerak kunci kemajuan organisasi

  1. Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 5 Juli 2008

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).
    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Ahli strategi, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s