September 25, 2009 oleh tshahindra
Ketika memulai mendirikan perusahaan tahun 1959, Kazuo Inamori hanya bermodalkan sedikit pengetahuan teknologi, tanpa uang, berlokasi di pinggir kota dan ditemani hanya 28 staff. Namun sekarang perusahaannya telah menjelma menjadi perusahaan global penyedia layanan telekomunikasi, keramik industri, panel surya listrik, komponen elektronik, semikonduktor dan penyedia peralatan medis maupun implan dengan pendapatan 12 milyar USD pertahun. Itulah Kyocera.
Menariknya, perusahaan ini memiliki moto / semboyan : Respect the divine and love People, Menghormati ilahi dan mencintai masyarakat. Di situs web Kyocera, penjelasan moto tersebut digambarkan sebagai: Preserve the spirit to work fairly and honorably, respecting people, our work, our company and global community (Mempertahankan semangat untuk bekerja secara adil dan terhormat, menghormati orang-orang, pekerjaan kami, perusahaan kami dan juga komunitas global). Dengan moto tersebut, pendiri Kyocera telah melangkah dan menjadikan landasan spiritualitas dalam bisnis manajemen perusahaannya.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Spiritual Based Management, morale-ethics | Leave a Comment »
September 1, 2009 oleh tshahindra
Harian Republika, tanggal 31 Agustus lalu secara gamblang menuliskan tentang Malaysia, yang seringkali melakukan klaim kepemilikan terhadap aset budaya indonesia. Jika dirunut, memang sudah banyak klaim malaysia, mulai dari makanan, pakaian, seni tari, seni musik, lagu daerah asli indonesia namun dijadikan obyek budaya negeri itu. Bila ditelusur, mulai dari makanan rendang, baju batik, angklung, tari pendet serta lagu daerah (rasa sayange) telah muncul di media malaysia.
Namun seperti kebanyakan media lainnya, tanggapan yang diberikan lebih bersifat reaktif daripada memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi di malaysia. Tulisan atau aksi yang muncul lebih mengutamakan aksi reaktif indonesia, seperti menuntut malaysia agar mencabut gugatan, mematenkan budaya asli indonesia, melakukan sweeping terhadap warga malaysia, atau yang lebih ekstrim melakukan konfrontasi langsung seperti halnya jaman Soekarno tahun 60 an.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Culture-values, Politics | Leave a Comment »
Agustus 25, 2009 oleh tshahindra
Pernahkah anda merasakan apa yang dilakukan ketika bekerja merasa ragu untuk bertindak, atau berada di area yang sifatnya abu-abu (grey area), ataupun belum ada peraturan yang menjelaskan boleh atau tidaknya melakukan hal tersebut. Boleh jadi sudah mengutak atik segala bentuk kontrak kerja, peraturan kerja, UU namun tetap saja belum menemukan kaidah yang bisa membenarkan atau membolehkan, ataupun kalau ada masih belum jelas.
Jika tempat bekerja sudah memiliki pedoman kerja, etika kerja, pedoman perilaku atau apalah namanya, maka sungguh beruntung. Berarti perusahaan sudah menerapkan sebagian dari tata kelola perusahaan (corporate governance) yang salah satunya mensyaratkan pedoman etika usaha atau cara bekerja dan berhubungan dengan pihak lain (masyarakat, pemerintah, mitra, karyawan dll).
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Corporate Governance, morale-ethics | 2 Komentar »
Agustus 24, 2009 oleh tshahindra
Ketika Fortune Magazine memberikan data 100 perusahaan sebagai tempat kerja terbaik (100 best companies to work for) tahun 2009, Google tidak lagi menjadi tempat kerja terbaik. Urutan terbaik dipegang oleh perusahaan penyedia dan penyimpanan data NetApp, sedangkan Google berada pada urutan ke 4.
Ukuran tempat kerja terbaik Fortune, berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh Great Place to Work Institute (GPTW), dengan dua index, yakni index Kepercayaan (Trust Index) dan Audit Budaya (Culture Audit). Trust Index, merupakan survey kepada karyawan yang diantaranya berisikan mengenai seberapa besar karyawan merasa antusias dan memiliki kepercayaan tinggi dalam setiap hubungan kerja. GPTW percaya, karyawan dalam lingkungan kerja dengan kepercayaan tinggi, akan bekerjasama,berkolaborasi, mengarah pada interaksi lingkungan kerja yang positif yang mendukung pencapaian produktifitas dan profitabilitas perusahaan. Trust Index ini mirip dengan Employee Engagement Survey. Sedangkan Culture audit, merupakan kuesioner manajerial, yang digunakan GPTW untuk mendapatkan pengertian lebih baik mengenai budaya perusahaan. Dalam culture audit, akan diminta data mengenai demografik, pendapatan dan profitabilitas perusahaan, paket remunerasi dan benefit serta pertanyaan terbuka mengenai aspek-aspek budaya kerja perusahaan.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam Employee Survey, morale-ethics, work-life balanced | Leave a Comment »
Agustus 11, 2009 oleh tshahindra
Minggu lalu saya diundang untuk menghadiri gathering mengenai Strategi pengembangan kerjasama dunia pendidikan dengan industri di bidang K3 (keselamatan dan kesehatan kerja) oleh Department K3, FKM – UI. Cukup menarik memang apa yang disajikan dalam gathering ini, dimana pada gathering tersebut telah diundang perwakilan perusahaan, baik di bidang Oil & Gas services, Mining, Manufacturing, Food& beverages dll terutama dalam hal K3 dan SDM.
Kegiatan ini merupakan salah satu ajang untuk memperkenalkan diri dari sisi perguruan tinggi dalam hal ini Departemen K3-FKM UI, untuk menjelaskan mengenai program-program pendidikan reguler yang ada baik untuk Strata I, Strata II dan seterusnya serta program-program yang akan dibuka dalam waktu dekat. Namun hal penting lainnya dalam kegiatan ini adalah bagaimana pihak akademis ingin mendapatkan pengalaman dan harapan perusahaan mengenai pelaksanaan kegiatan magang untuk mahasiswa program sarjana departemen K3, dimana pihak yang berkepentingan dengan program magang ini yakni para pembimbing akademik bisa mendapatkan informasi secara langsung mengenai usulan, rekomendasi, peluang serta saran-saran dari wakil perusahaan yang diundang, sehingga bisa didapatkan gambaran secara menyeluruh mengenai program magang mahasiswa yang menjadi aspek penting kelulusan mahasiswa program sarjana tersebut.
Lanjut Baca »
Ditulis dalam HR Story, Job Search Tips | Leave a Comment »