Feeds:
Tulisan
Komentar

Dari sekian jenis training yang pernah penulis ikuti, mulai dari pelatihan soft skill (perilaku, budaya) maupun hard skill (ketrampilan, pengetahuan), belum ada satupun model pelatihan yang mampu mencapai evaluasi tingkat 5 (ROI) model Kirkpatrick.  Bahkan, sebagai mana jasa-jasa penyelenggara pelatihan (training solution provider), hampir semuanya menggunakan model kuesioner sebagai bentuk evaluasi pelatihan yang diberikan kepada peserta,  selanjutnya menilai tingkat kepuasan terhadap trainer, materi termasuk fasilitasnya. Jadilah yang dinamakan indeks kepuasan peserta pelatihan atau biasa disebut sebagai Participation Satisfaction Index. Sering kali ini disebut sebagai ukuran / indikator keberhasilan penyelenggaraan training, padahal dalam model evaluasi pelatihan, indikator ini hanya menduduki strata terendah (tingkat 1: kepuasan) model evaluasi training.

Namun berbeda dengan model pelatihan yang penulis ikuti beberapa waktu lalu. Inilah model pelatihan yang menawarkan sesuatu yang benar-benar lain dan sejauh ini penulis belum menemukan penyelenggara sejenis.  Digagas oleh bapak Muhaimin Iqbal, pelatihan yang diberikan dinamakan pesantren wirausaha. Ya, dari namanya mungkin mudah ditebak, tentunya terkait dengan kewirausahaan.

Lanjut Baca »

Hugh Herr_01Seorang laki-laki tampak memanjat tebing dan batuan. Sangat cekatan dan cepat dia mendaki, bahkan lebih cekatan dari beberapa pemanjat tebing yang lain. Namun ada sesuatu yang membuatnya dia berbeda, yakni kakinya.

Hugh Herr, demikian nama si pemanjat tebing, hanyalah merupakan laki-laki yang menyenangi kegiatan panjat tebing dan mendaki sejak masa muda. Ketika muda, diapun memiliki impian untuk menjadi atlet panjat tebing terkemuka di dunia.

Lanjut Baca »

ssc2005-26b_smallKetika memulai mendirikan perusahaan tahun 1959, Kazuo Inamori hanya bermodalkan sedikit pengetahuan teknologi, tanpa uang, berlokasi di pinggir kota dan ditemani hanya 28 staff. Namun sekarang perusahaannya telah menjelma menjadi perusahaan global penyedia layanan telekomunikasi, keramik industri, panel surya listrik, komponen elektronik, semikonduktor dan penyedia peralatan medis maupun implan dengan pendapatan 12 milyar USD pertahun. Itulah Kyocera.

Menariknya, perusahaan ini memiliki moto / semboyan : Respect the divine and love People, Menghormati ilahi dan mencintai masyarakat. Di situs web Kyocera, penjelasan moto tersebut digambarkan sebagai: Preserve the spirit to work fairly and honorably, respecting people, our work, our company and global community (Mempertahankan semangat untuk bekerja secara adil dan terhormat, menghormati orang-orang, pekerjaan kami, perusahaan kami dan juga komunitas global). Dengan moto tersebut, pendiri Kyocera telah melangkah dan menjadikan landasan spiritualitas dalam bisnis manajemen perusahaannya.

Lanjut Baca »

Pemberian kemerdekaan kepada persekutuan malayaHarian Republika, tanggal 31 Agustus lalu secara gamblang menuliskan tentang Malaysia, yang seringkali melakukan klaim kepemilikan terhadap aset budaya indonesia. Jika dirunut, memang sudah banyak klaim malaysia, mulai dari makanan, pakaian, seni tari, seni musik, lagu daerah asli indonesia namun dijadikan obyek budaya negeri itu.  Bila ditelusur, mulai dari makanan rendang, baju batik, angklung, tari pendet serta lagu daerah (rasa sayange) telah muncul di media malaysia.

Namun seperti kebanyakan media lainnya, tanggapan yang diberikan lebih bersifat reaktif daripada memahami mengapa hal tersebut dapat terjadi di malaysia. Tulisan atau aksi yang muncul lebih mengutamakan aksi reaktif indonesia, seperti menuntut malaysia agar mencabut gugatan, mematenkan budaya asli indonesia, melakukan sweeping terhadap warga malaysia, atau yang lebih ekstrim melakukan konfrontasi langsung seperti halnya jaman Soekarno tahun 60 an.

Lanjut Baca »

ladyjusticePernahkah anda merasakan apa yang dilakukan ketika bekerja merasa ragu untuk bertindak, atau berada di area yang sifatnya abu-abu (grey area), ataupun belum ada peraturan yang menjelaskan boleh atau tidaknya melakukan hal tersebut. Boleh jadi sudah mengutak atik segala bentuk kontrak kerja, peraturan kerja, UU namun tetap saja belum menemukan kaidah yang bisa membenarkan atau membolehkan, ataupun kalau ada masih belum jelas.

Jika tempat bekerja sudah memiliki pedoman kerja, etika kerja, pedoman perilaku atau apalah namanya, maka sungguh beruntung. Berarti perusahaan sudah menerapkan sebagian dari tata kelola perusahaan (corporate governance) yang salah satunya mensyaratkan pedoman etika usaha atau cara bekerja dan berhubungan dengan pihak lain (masyarakat, pemerintah, mitra, karyawan dll).

Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »